Sunday, August 27, 2017

Ilmu Ekonomi Perikanan

Standard


1.                  Pemahaman anda mengenai ekonomi, Bagaimana di sector perikanan?



JAWAB :

Ekonomi managemen adalah yang mengelolah sumber daya agar tertata dengan sistematis, sesuai bidang masing masing.
Ekonomi akuntansi adalah yang mengatur system per-uangan di suatu usaha yang termasuk dalam produksi, distribusi, dan konsumsi.
Ilmu ekonomi adalah yang mengatur (manage) suatu ruang lingkup luas serta  menghimpun untuk dijadikan sebagai pedoman data (referensi) dalam pegelolaan kedepannya di bidang yang terfokus pada pendanaan sperti menganalisis prospek kedepan siklus ekonomi.
Di masa sekarang setiap sector usaha pasti membutuhkan Dana dan ada orang yang menjadi pengelolanya agar tidak terjadi kehabisan dana (deficit)
Dalam ruang lingkup luas yang mengatur dari bidang produksi rumah tangga, konsumsi rumah tangga, pemasukan pemerintah, belanja pemerintah, imporan dari luar negri, exporan dalam negeri adalah ekonomi dalam sebuah negara.
Dalam contoh kecilnya saja Di lingkungan rumah tangga kita harus berbelanja dan mengetahui harga pasaran, membeli makanan peralatan mandi, membeli sepeda motor , meminjam uang di bank dan lain-lain.
Di sector perikanan di Indonesia sangat memerlukan ilmu ekonomi untuk menunjang keberlangsungan hidup para nelayan dan masyarakat, pemerintah lah yang mengatur jalannya perekonomian, dengan membeli perlatan yang sepantasnya digunakan bagi para nelayan, serta memberikan sampan atau boat yang layak.
Di Indonesia lahan lautan lebih luas daripada daratan, biasa disebut dengan negara kepulauan dengan beribu ribu pulau dan lahan pantai yang panjan dan bentang laut nan luas, banyak pulaunya sekitar 17.500 pulau dan pantainya mencapai 104.000 km dan 3.554 juta km2 (masa 2010). Di sini adalah fakta kekayaan laut kita memiliki sebuah asset yang harus kita kelola agar tidak terbuang sia-sia, apabila dikelola secara baik akan mampu meningkatkan pendapatan negara kita menjadi lebih tinggi dalam jumalah kekayaan alam lautan kita yang begitu besar.

2.                  Seberapa penting ilmu ekonomi dibandingkan  dengan ilmu lain, yang anda pelajari dengan contoh contoh?
JAWABAN :
Ilmu ekonomi memungkinkan kita untuk mengikuti perkembangan dunia yang sekarang sedang tinggi ataupun merosot, maka dari itu penting bagi kita untuk mengetahui masalah perekonomian di negara kita dan bisa berusaha meningkatkan kinerja dan pengetahuan agar tidak terjadi stagnasi seperti masa orde lama dulu yang keadaan perkeonomian benar-benar merosot.
Seberapa pentingkah Ilmu ekonomi di banding ilmu lainnya? Pentingnya adalah karena di dalam ilmu ekonomi terdapat unsur sosiologi, sejarah, antropogi dan geografi. Unsur sosiologinya Contohnya ketika kita berjualan akan terjadi interaksi antara penjualan dan pembeli yang terjadi di pasar sehingga terjadi penawaran tingkat lanjut, Unsur sejarahnya dengan melihat keadaan ekonomi pada masa yang dulu pernah terjadi kemorosotan (krisis moneter) harga rupiah turun drastis perbangannya mencapai Rp18,000/US$ membuat negara kita terjatuh dan terjadi pergolakan kekuasaan setelah terjadinya reformasi, dengan begitu membuat Negara kita berjuang untuk tidak terjadi untuk sekian kalinya dengan belajar dari masa lalu yang telah di alami. Unsur anthropologi terhadap ekonomi telah terjadi sejak peradaban dimana orang memperebutkan kekuasaan, harta ramapasan perang dan di jual dengan bayaran emas, dan pada zaman dahulu kebiasaan manusia sebelum adanya patokan mata uang, orang membayar dengan barang yang dimillikinya seperti barang yang dia punya, dan makanan untuk dibagikan dengan kesesuaian usaha yang dilakukan manusia tersebut. Perbedaannya dengan zaman sekarang adalah semuanya sudah di patokkan mulai dari harga barang dari yang tidak berkualitas di jual dengan harga murah, dan yang berkualitas dengan harga yang tinggi, dan system pembayaran juga sudah dibuat mata uang yang dibuat dari pemerintah di Negaranya sesuai dengan standart dan kebijakan yang berlaku. Unsur geografi juga mencakup dalam ekonomi seperti untuk membangun sebuah proyek pembangunan sekolah perlu dilihat lahan sebarapa besar yang dibutuhkan dan berapa biaya yang diperlukan untuk membangun dan bahan dari mana yang cocok bagi pembangunan, dan berapa jumlah pekerja serta gajinya, dan kapan selesainya harus sesuai dengan yang direncanakan, yang terpenting adalah sector lahan yang sudah ada untuk dikelola jika tidak akan sia sia. Di sector kelautan juga harus diperhitungkan lautan yang begitu luas dengan kekayaan alam serta makhluk hidup yang kian berjuta akan dipastikan akan membuahkan keuntungan yang berlimpah jika pandai mengatur roda perkonomian, serta pemanfaatan kedepannya perlu diutamakan, seperti para nelayan yang mengambil sesuai batas ketentuan, dan bisa mengawasi para pemasok asing dari sector geografis lautan.
Ilmu ekonomi terapan termasuk produksi yang dilakukan oleh industri barang yang mentah menjadi barang siap jadi dalam jumlah sedikit ataupun banyak, bidang distribusi guna menyalurkan barang , perdagangan yang dilakukan wiraswasta kepada masyarakat, dan konsumsi  yang dilakukan masyarakat.
Dibanding ilmu yang lain ilmu ekonomi lebih mencakup secara keseluruhan karena tanpa ilmu ekonomi , ilmu pendidikan tidak akan jalan, pemerintahan memerlukan ilmu ekonomi, ilmu antrhopologi terdapat ilmu ekonomi di dalamnya, ilmu kelautaan yang mencakup sumber daya, dan ilmu politik yang mengatur sebuah negara. Contohnya kita membutuhkan uang untuk membeli barang, tidak mungkin kita membayar dengan menggunakan  nasehat pasti memerlukukan uang, dan sebagai contoh lain politik suatu negara tidak terlepas dari naik turunnya ekonomi untuk memutuskan tindakan selanjutnya bagi bangsanya.

3.                  Jelaskan konstribusi ekonomi perikanan terhadap ekonomi nasional !



JAWABAN :

Pada tahun 2017 telah didata oleh BPS (badan pusat statistic) Republik Indonesia. Pada tahun 2010 harga konstan dan harga berlaku terjadi keseimbangan mencapai Rp 12.406 Triliun di harga berlakunya. Sedangkan Nilai PDB pada tahun 2016 mencapai Rp 9.433 Triliun menurut harga berlakunya, Sementara untuk Harga berlakunya terjadi peningkatan 2.21 (2012) menjadi 2,32 (2014), serta pada tahun 2015 harga berlakunya 2,51 dan meningkat pada tahun 2016 harga berlakumnya 2,56.
Dan menurut harga Konstan dari tahun 2010-2016, meningkat perlahan-lahan dan ter jadi kesamaan pada tahun 2015 ke 2016 dalam Konstribusi perikanan terhadap PDB Nasional.
Kesimpulannya PDB perikanan mengalami peningkatan sejalan dengan usaha pemerintah untuk memperbaiki produksi perikanan, dan terhadap Budidaya perikanan. Agar supaya pencapaian produksi nasional tetap terjaga perlu diperkuat penjagaan dan system hukum  dibidang ekosistem dan perairan. 

 


4.                  Bagaimana menurut anda prospek ekonomi perikanan ke depan



JAWABAN :

Menurut saya prospek perikanan Indonesia sangat cemerlang karena mempunyai kakayaan alam di bidang maritim. Dilihat dari geografis yang mempunyai lebih dari 13.000 pulau. Dan daratan sekitar 1/3, lautan 2/3. Dengan potensi alam yang begitu banyak  masih sedikit sekali tenaga kerja yang mampu memanfaatkan sumber daya tersebut dengan modern secara maksimal serta tidak menghabiskan secara sia sia. Dengan demikian banyak kesempatan besar bagi para lulusan sarjan perikanan dan sarjana ilmu kelautan untuk berkecimpung dalam pengelolaan sumber daya kelautan di Indonesia.
Menurut seorang pengajar mahasiswa kejurusan kelautan  mengatakan “Kalian tersesat di jalan yang benar” makna kata ini adalah alam kita yang kian luas adalah jalannya untuk dikembangkan dan menghasilkan pendapatan yang besar bagi negara, dan kita sedang kebingungan dalam mengelola sumber daya tersebut,
Sector perairan masih menjadi yang paling utama untuk dijaga demi keberlangsungan perairan Indonesia, dan sector ekonomi menjadi pemangku pemasukan negara, eko wisata akan membantu untuk kedatangan wisatawan local maupun manca negara.di setiap daerah memiliki  sumber mata air dari rawa, danau, sungai, laut.
Beberapa potensi memerlukan generasi untuk memelihara dan meneruskan, beberapa potensi ekonomi sumberdaya kelautan dan perikanan antara lain :
ü  Perikanan budidaya
ü  Perikanan  tangkap
ü  Industry hasil perikanan
ü  Industri bioteknologi kelautan
ü  Pertambangan dan energy
ü  Pariwisata bahari
ü  Kehutanan mangrove
ü  Perhubungan laut
ü  Industry dan jasa maritime
ü  Sumberdaya pulau pulau kecil
ü  Sumber daya alam non konevensional
Semua potensi membutuhkan tenaga kerja yang baik pada sector keamanan, ekonomi, wisata dan pengabdian negara. Untuk memnuhi pengelolaan seluruh potensi perikanan kelautan, Indonesia membutuhkan 40 juta tenaga kerja.Setiap tahunnya. Lulusan perikanan mengalami peningkatan mereka yang mampu mempertahankan komitmennya dalam perikanan dialah yang mau menyambut kesuksesan.
Beberapa macam lapangan kerja lulusan sarjan perikanan :
ü  Dinas kelautan dan perikanan
ü  PNS
ü  Kementrian kemaritiman
ü  BUMN
ü  Entrepreneur
ü  Dosen
ü  Peniti
ü  Ahli gizi ikan
ü  Pedagang
ü  Pegwai bank
ü  Ahli lingkungan
Terbukti prospek pekerjaan yang ditawarkan sangalah banyak. Ada yang menganggap rendahnya prospek kerja perikanan sehingga mereka menomorsekian kan perikanan.
Beruntunglah Indonesia yang telah ditakdirkan menjadi negar dengan garis pantai terpanjang dan luasnya lautan. Sehingga banyak dari kita yang memanfaatkan kekayaan tersebut.

5.                  Permasalahan apa yang dihadapi oleh kita menyangkut ekonomi perikanan?
JAWABAN :
Sumberdaya ikan yang melimpah di laut Indonesia memang menarik perhatian Negara lain. Sehingga Negara lain pun ingin mengambil kekayaan perikanan dan kelautan Indonesia. Kapal-kapal asing yang masuk wilayah Indonesia dan mengambil ikan secara illegal belum mampu diatasi oleh pemerintah. Hal ini membuat bangsa kita dipandang rendah oleh bangsa lain. Kita dianggap lemah secara pengawasan dan tindakan. Dan akan membuat rakyat kita hanya menjadi budak di rumah sendiri. Potensi kekayaan alam laut tidak termanfaatkan secara optimal oleh rakyat kita. Seharusnya kitalah yang menguasai ikan-ikan kita sendiri. Kitalah yang seharusnya mengolah alam kita sendiri.
Permasalahan kedua Kesejahteraan nelayan secara ekonomi dan social masih jauh dari harapan nelayan. Penghasilan dari menangkap ikan belumlah cukup untuk mensejahterakan keluarga. Penghasilan yang ia peroleh belum mampu untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke Perguruan Tinggi, belum mampu membiayai perawatan rumah sakit, belum mampu memberi makan makanan yang bergizi, sehat dan bermutu untuk istri dan anak-anak mereka, dan belum mampu meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Sehingga profesi sebagai nelayan masih diasumsikan sebagai profesi yang belum memiliki prospek yang bagus. Hal ini tidak dapat dibiarkan begitu saja. Tanpa nelayan penduduk perkotaan tidak akan bisa memakan ikan yang kaya dengan protein. Nelayanlah yang berperan sebagai penyokong ketahanan pangan nasional.
 permasalahan yang ketiga dan tak disadari perannya ialah kesadaran masyarakat terhadap potensi perikanan dan kelautan yang masih kecil. Masyarakat belum terlalu tertarik terhadap perikanan dan kelautan Indonesia. Hal ini bisa dicontohkan seperti, konsumsi ikan yang belum menempati peringkat teratas masyarakat Indonesia. Masyarakat belum menyadari bahwa kandungan hasil laut memiliki gizi yang tinggi. Kita bisa mencontoh pada Negara Jepang yang masyarakatnya sangat menyukai makanan laut. Sehingga Negara Jepang bisa sangat maju. Contoh yang kedua ialah bisa terlihat dari minat masyarakat untuk mempelajari ilmu perikanan dan kelautan yang belum menjadi prioritas utama.
Permasalahan yang keempat strategi pengolahan dan pemasaran hasil perikanan adalah:
ü  Lemahnya jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan (quality assurance dan food safety) Pihak pembeli dari negara lain menuntut kepada Indonesia (para eksportir) agar produk yang dihasilkan memenuhi ketentuan ketentuan sbb : penerapan HACCP, Bioterrorism Act, sanitasi kekerangan, cemaran logam berat dan histamin pada tuna dan certificate eco labelling selain health certificate. Hal ini disebabkan oleh lemahnya jaminan dan keamanan hasil perikanan (quality
assurance dan food safety) di Indonesia.
ü  Tingginya tingkat kehilangan (losses) mencapai sekitar 27,8% Untuk mendapatkan hasil/produk yang bermutu baik, maka sangat diperlukan bahan baku yang bermutu baik pula. Hal ini menjadi tuntutan dan syarat mutlak bagi konsumen. Apabila hal ini tidak dipenuhi, maka yang terjadi adalah banyaknya banyaknya terjadi tingkat kehilangan (losses). Penyebab lain adalah rendahnya pengetahuan nelayan, pengolah, petugas TPI/PPI mengenai cara penanganan dan pengolahan yang baik (Good Manufacturing Practice/GMP).
ü  Kurangnya intensitas promosi dan rendahnya partisipasi stakeholders Produk perikanan yang bernilai tambah (value added products) dimasyarakat belum populer, hal ini disebabkan oleh masih kurangnya intensitas promosi serta rendahnya partisipasi stakeholders (khususnya produsen produk perikanan) dalam mengembangkan program promosi.
ü  Terbatasnya sarana penanganan ikan Terbatasnya sarana penangan ikan di atas kapal, distribusi dan terbatasnya sarana pabrik es dan air bersih.
ü  Kurangnya bahan baku industri Kurangnya bahan baku industri pengolahan ini disebabkan oleh belum adanya kerjasama antara industri penangkapan dan pengolahan sehingga perusahaan penangkapan cenderung mengekspor ikan dalam bentuk ikan utuh (gelondongan).
ü  Bahan baku belum standar Sebanyak 85% produksi perikanan tangkap didominasi/dihasilkan oleh nelayan skala kecil dan pada umumnya kurang memenuhi standar bahan baku industri pengolahan.
ü   Penggunaan Bahan Kimia Berbahaya Maraknya bahan kimia berbahaya dalam penanganan dan pengolahan ikan, misalnya formalin, borax, zat pewarna, CO, antiseptik, pestisida, antibiotik (chloramphenol, Nitro Furans, OTC). Hal ini disebabkan oleh substitusi bahan pengganti tersebut kurang tersedia dan peredaran bahan kimia berbahaya bebas, murah dan sangat mudah diperoleh.
ü  Jenis ragam produk dan pengembangan produk bernilai tambah belum berkembang (value added products) optimal dan belum populer Meskipun kajian dan hasil penelitian pemanfaatannya sudah banyak tersedia, namun produksi secara masal belum dapat direalisasi. Banyak kendala yang menyebabkannya, salah satu diantaranya adalah ketersediaan sarana prasarana , mahalnya peralatan, kurangnya teknologi serta masalah kontinuitas suplai bahan baku.
ü  Rendahnya konsumsi ikan per kapita Rendahnya konsumsi ikan per kapita disebabkan oleh belum meratanya distribusi, suplai tidak kontinyu, masih banyak produk yang berkualitas kurang prima di pasaran, kurangnya pengetahuan masyarakat akan manfaat makan ikan, masih adanya budaya dan kondisi sosial masyarakat yang kurang kondusif terhadap peningkatan konsumsi ikan serta belum meratanya program GEMARIKAN di seluruh daerah.
ü  Informasi teknologi terbatas Terbatasnya informasi dan teknologi penanganan dan motivasi serta keinginan untuk meningkatkan pengetahuan/ketrampilan masih rendah.

 


6.                  Bagaimana seharusnya sumber daya manage /perikanan dikelola agar memberikan nilai ekonomi yang tinggi?



JAWABAN :

1.      Meningkatkan Konsumsi Ikan Yang Sehat dan Aman
Salah satu tujuan membangun sektor Perikanan untuk terciptanya ketahanan pangan di Indonesia adalah meningkatkan ketersediaan ikan yang sehat dan aman. Untuk mencapai hal tersebut, maka langkah relevan yang telah dan akan dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan adalah sebagai berikut :
a.       Meningkatkan mutu dan keamanan produk perikanan.
b.      Meningkatkan produktivitas pengolahan hasil perikanan yang ramah lingkungan.
c.       Meningkatkan standar bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan yang sesuai dengan ketentuan Internasional.
d.      Meningkatkan kualitas kompetensi lembaga sertifikasi produk perikanan.
e.       Memerkuat jaringan dan kelembagaan pemasaran dalam negeri.
f.       Mendorong peningkatan konsumsi ikan dalam negeri.
g.       Memperkuat dan mengembangkan basis pasar produk perikanan Indonesia dan di luar negeri.
h.      Meningkatkan kompetensi sumberdaya manusia di bidang pengolahan dan pemasaran hasil perikanan.
2.      Pentingnya Dukungan Teknologi Produk Perikanan
Memberi jaminan kepada konsumen terhadap produk yang aman dan sehat merupakan hal utama yang menjadi perhatian sektor perikanan dalam rangka menyiasati maraknya peredaran produk perikanan yang kurang berkualitas dan mengandung bahan kimia berbahaya, melalui cara-cara pengolahan yang higienis sesuai GMP (Good Manufacturing Practices), SSOP (Standard Sanitation Operating Procedure) serta menerapkan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) . Tidak saja untuk konsumen luar negeri, tetapi konsumen dalam negeri pun sudah mulai kritis dan menuntut penyediaan makanan yang aman dan sehat. Apapun cara yang di tempuh dalam penyediaan produk perikanan, yang menjadi tujuan ketahanan pangan produk perikanan adalah :
1.      Meningkatnya konsumsi ikan.
2.      Tersedianya produk yang aman, sehat dan kontinyu tersedianya.
Teknologi yang dibutuhkan dan perlu untuk dikembangkan adalah yang mampu mengatasi banyaknya permasalahan yang dihadapi sehingga tujuan ketersediaan pangan produk perikanan dapat terpenuhi, melalui teknologi yang murah dan aplikatif (mudah untuk diterapkan) dukungan teknologi produk perikanan menjadi sangat penting tidak hanya untuk memenuhi tuntutan pembeli/konsumen, namun juga diperlukan dalam rangka menangkap perubahan pola konsumsi masyarakat perkotaan yang lebih cenderung kepada makanan olahan yang instan, cepat dan praktis, tetap mengutamakan kandungan gizi, pemeliharaan kesehatan serta aman untuk dikonsumsi. Protein hewani yang berasal dari ikan (ikan dan berbagai jenisnya) menjadi jawabannya, selama ditangani dengan cara yang benar dan sesuai standar.
3.      Peran Strategi Teknologi Pengembangan Produk Perikanan:
Pertama, Meningkatkan nilai ekonomi produk olahan. Hal ini terutama untuk produk-produk yang tidak memiliki nilai ekonomis, apabila diolah maka berpengaruh kepada meningkatnya nilai ekonomis.
Kedua, Menumbuhkan inovasi teknologi modern. Karena dalam pengembangan produk terkait erat dengan rekayasa produksi sehingga diperlukan rekayasa peralatan dan sentuhan teknologi modern.
Ketiga, Meningkatkan apresiasi terhadap produk tradisional. Karena dalam pengembangan produk, tidak hanya produk yang melalui proses teknologi modern saja yang menjadi fokus perhatian, produk tradiosionalpun perlu memperoleh apresiasi, sehingga memiliki daya saing dengan produk olahan lainnya. Nilainya dapat ditingkatkan melalui berbagai cara antara lain kebersihannya/higienisnya, pengemasannya, proses pembuatannya, dan sebagainya.
Keempat, Membentuk SDM berkualitas dan kompeten, karena dalam menciptakan pengembangan produk diperlukan kreativitas seseorang dalam menciptakan produk-produk yang diminati konsumen, sehingga secara tidak langsung dapat menciptakan SDM berkualitas dan kompeten.

4.         Cold Chain Sistem
Sistem Rantai Dingin atau Cold Chain System (CCS) merupakan salah satu program yang dapat mendorong akselerasi tercapainya produk perikanan prima. Karena prinsip utama dalam penerapan sistem rantai dingin adalah penanganan ikan dengan suhu dingin sekitar 0°C dilakukan secara terus menerus tidak terputus sejak ikan ditangkap atau dipanen, didaratkan dan didistribusikan serta dipasarkan hingga ke tangan konsumen. Apabila penerapan sistem rantai dingin secara benar diterapkan dengan baik serta memperhatikan sanitasi dan hygiene maka ikan hasil tangkapan atau ikan hasil panen dapat dipastikan memiliki mutu tinggi, aman dikonsumsi serta memenuhi kriteria produk perikanan prima. Sistem rantai dingin sudah dikembangkan sejak dulu walaupun sifatnya masih parsial dan belum dilakukan secara sistematis dari hulu sampai hilir. Pada awalnya pengembangan sistem rantai dingin dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Departemen Pertanian pada tahun 1990-an dengan kegiatan pemberian bantuan cool box kepada nelayan kecil dan bimbingan teknis tentang penanganan hasil perikanan dengan menggunakan sarana cool box tersebut. Mengingat dari sisi pendanaan yang relative kecil sehingga tingkat keberhasilan dari kegiatan tersebut belum dapat dirasakan manfaatnya oleh para nelayan secara nasional.

5.      Pengembangan Sentra
Sentra merupakan kumpulan dari beberapa produsen produk sejenis yang berada pada posisi yang sama dalam mata rantai nilai. Sentra merupakan pusat kegiatan UKM di kawasan/lokasi tertentu yang menggunakan bahan baku/sarana yang sama, menghasilkan produk yang sejenis serta memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi klaster. Sedangkan pengembangan sentra dilakukan karena beberapa alasan antara lain :
ü  Adanya efisiensi kolektif (bahan baku, proses produksi dan pemasaran hasil)
ü  Mencapai Skala Ekonomis
ü  Penanganan limbah lebih terkendali
ü  Mudah melakukan pembinaan dan monev (standar yang homogen)
ü  Adanya akses terhadap inovasi
ü  Adanya akses terhadap pengetahuan dan teknologi
ü  Mempermudah internalisasi pengembangan UKM Pengolaha
Dengan menumbuhkembangkan sentra-sentra pengolahan ikan di daerah, menumbuhkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi berbasis usaha pengolahan ikan, mengembangkan jaringan usaha mikro, kecil dan menengah dalam suatu kawasan kemudian disinergikan dengan usaha pengembangan produk, serta selalu menerapkan sistem rantai dingin maka diharapkan mampu mendorong terciptanya produk yang aman dan sehat, ketersediaan produk menjadi kontinyu sehingga tingkat konsumsi meningkat.


 sumber buku :


  1. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2004. Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup Indonesia.
  2. Jakarta.
  3. Badan Pusat Statistik Provinsi Riau. 2009. Pendapatan Regional Riau Menurut Lapangan Usaha
  4. 2004-2008, PT. Geosys Intipiranti, Pekanbaru.
  5. Basri, Faisal. 2002. Perekonomian Indonesia Menyongsong Abad 21. Penerbit Erlangga, Jakarta.
  6. Gregory Mankiw. 2004. Makro Ekonomi. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  7. Mahyudi, Ahmad. 2004. Ekonomi Pembangunan dan Analisis Data Empiris, Ghalia Indonesia, Bogor.
  8. Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau, 2009. Pekanbaru.
  9. Putong, Iskandar. 2003. Ekonomi Makro dan Mikro. Penerbit Ghalia Indonesia, Jakarta.
  10. Rahardja, Pratama. 2001. Teori ekonomi Makro. Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,
  11. Jakarta.
  12. Rahim dan Diah Retno. 2007. Ekonomika Pertanian, Pengantar, Teori dan Kasus. Penebar Swadaya,
  13. Jakarta.
  14. Salim, Emil, 2000, Perencanaan Pembangunan dan Pemerataan Pendapatan, Yayasan Indayu,
  15. Jakarta.
  16. Soetrisno, Loekman. 2002. Paradikma Baru Pembangunan Pertanian, Sebuah Tinjauan Sosiologi.
  17. Penerbit Konisius, Jakarta.
  18. Sudanroko, Djoko dan Muliawan. 2009. Dasar-dasar Pengantar Ekonomi Pembangunan. PT.PP.Mardi
  19. Mulyo, Jakarta Selatan.
  20. Sukirno, Sadono, 2000, Pengantar Teori Makro Ekonomi, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
  21. Suparmoko, M. 2008. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Suatu Pendekatan Teoritis.
  22. BPFE-YOGYAKARTA, Yogyakarta.
  23. Tambunan, Tulus, 2002, Perkembangan Industri Skala Kecil di Indonesia , PT. Mutiara Sumber
  24. Widya, Jakarta.
  25. Tarigan, Robinson, 2005, Ekonomi Regional Teori dan Aplikasi, Bumi Aksara, Jakarta.
  26. Todaro, Michael & Smith. 2006. Pembangunan Ekonomi. Penerbit Erlangga, Jakarta.

sumber internet :

http://www.academicindonesia.com/prospek-kerja-jurusan-perikanan/#main